Jombang, 25 Agustus 2026 – Ribuan jamaah larut dalam lantunan zikir, istighatsah, manaqib dan doa bersama pada gelaran Istighatsah dan Manaqib Kubra Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) di Pondok Pesantren Al-Amanah II Bahrul Ulum, Jombang, Selasa (25/8) malam.
Mengusung tema “Memperkokoh Ruhaniyah dan Memperkuat Moralitas untuk Kemaslahatan Bangsa”, kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi ikhtiar spiritual dan doa bersama untuk kesuksesan penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Istighatsah dan Manaqib Kubra menjadi bagian penting dari rangkaian agenda JATMAN di Tambakberas. Tidak hanya menjadi ruang bermunajat, kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa ikhtiar menyukseskan Muktamar NU tidak berhenti pada kesiapan fisik, organisasi dan teknis, tetapi juga harus ditopang dengan kekuatan ruhani, keteladanan akhlak dan doa para masyayikh serta jamaah.
Istighatsah-Manaqib Kubra tersebut diikuti sekitar 2.000 orang yang terdiri atas jajaran Idarah Aliyah, Idarah Wustha, Idarah Syu’biyyah, para mursyid thariqah, undangan, jamaah thariqah dari Jombang dan Jawa Timur, serta masyarakat umum.
Mudir Idaroh Syu'biyah JATMAN Jombang sekaligus tuan rumah kegiatan, Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H.I., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Istighatsah dan Manaqib Kubra dengan khidmat di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Menurutnya, kehadiran para masyayikh, mursyid, pengurus JATMAN dan ribuan jamaah menjadi sebuah kehormatan sekaligus keberkahan bagi masyarakat Tambakberas yang dalam beberapa hari ke depan akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar Muktamar ke-35 NU.
“Bagi kami, menyambut Muktamar tidak cukup hanya dengan menyiapkan tempat, sarana dan prasarana. Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan batin, memohon pertolongan dan ridha Allah SWT agar seluruh rangkaian Muktamar diberikan kelancaran, keselamatan dan menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan bagi NU, umat, bangsa dan negara,” ungkapnya.
Ia mengatakan tradisi istighatsah, zikir dan manaqib merupakan bagian dari kekayaan spiritual warga Nahdliyin yang harus terus dirawat. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kekuatan ruhani menjadi fondasi penting agar kemajuan tidak kehilangan arah moral.
Karena itu, tema memperkokoh ruhaniyah dan memperkuat moralitas dinilai sangat relevan dengan tantangan masyarakat saat ini.
“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama dengan kemajuan akhlak. Kita membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi sekaligus memiliki kedalaman ruhani, adab dan kepedulian terhadap sesama. Dari Tambakberas ini kita bermunajat agar Muktamar NU membawa keberkahan dan semakin menguatkan khidmah Nahdlatul Ulama,” katanya.
Sementara itu, Mudir ‘Ali Idaroh Aliyah JATMAN Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa menegaskan bahwa thariqah dan tasawuf tidak boleh dipahami sebatas ritual individual. Kedalaman hubungan seorang hamba dengan Allah SWT harus memiliki dampak nyata terhadap kehidupan sosial, kebangsaan dan kemanusiaan.
Menurutnya, inilah makna penting tema “Memperkokoh Ruhaniyah dan Memperkuat Moralitas untuk Kemaslahatan Bangsa”.
“Ruhaniyah yang kuat harus melahirkan moralitas yang kuat. Dan moralitas yang kuat harus bermuara pada kemaslahatan. Orang yang semakin dekat kepada Allah seharusnya semakin baik akhlaknya, semakin besar kepeduliannya kepada sesama dan semakin kuat komitmennya menjaga persatuan bangsa,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa JATMAN sejak awal tidak memisahkan antara kesalehan spiritual dan tanggung jawab kebangsaan. Para mursyid dan ulama thariqah memiliki sejarah panjang dalam membangun umat, menjaga harmoni masyarakat serta menanamkan kecintaan kepada agama dan tanah air.
Karena itu, momentum Muktamar ke-35 NU menurutnya harus menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat kontribusi NU dan seluruh badan otonomnya dalam menjawab tantangan zaman.
“Muktamar bukan semata-mata forum organisasi. Di dalamnya ada amanah besar bagaimana NU terus hadir memberikan jawaban atas persoalan umat, bangsa dan kemanusiaan. Maka sebelum ikhtiar organisasi itu dilakukan, malam ini kita awali dengan mengetuk pintu langit, memohon pertolongan Allah SWT,” ujarnya.
Ali Masykur Musa juga mengajak seluruh jamaah thariqah untuk terus menjaga keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial serta menjadikan nilai-nilai tasawuf sebagai kekuatan moral dalam kehidupan masyarakat.
Ia menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan ekonomi. Bangsa yang besar juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas, kejernihan hati, kepedulian sosial dan orientasi pada kemaslahatan bersama.
Katib Mustafad Idaroh Aliyah JATMAN KH. Zuhrul Anam Hisyam menambahkan, pelaksanaan Istighatsah dan Manaqib Kubra menjelang Muktamar memiliki makna tersendiri karena NU sejak kelahirannya tidak pernah dapat dilepaskan dari kekuatan doa, sanad keilmuan, pesantren dan para ulama.
Karena itu, ia mengajak jamaah memandang Muktamar bukan hanya sebagai momentum pergantian atau penataan organisasi, melainkan sebagai ruang muhasabah terhadap perjalanan dan masa depan khidmah Nahdlatul Ulama.
“Yang kita doakan bukan sekadar agar acaranya sukses. Lebih jauh dari itu, kita memohon agar Muktamar menghasilkan keputusan-keputusan terbaik, menghadirkan persatuan, memperkuat jam’iyyah dan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi jamaah serta masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan NU selama ini tumbuh dari perpaduan antara tradisi keilmuan, spiritualitas, pesantren, jaringan ulama dan kedekatan dengan masyarakat.
Tradisi tersebut harus terus dijaga di tengah perkembangan zaman sehingga NU tetap kokoh pada akar Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mampu menjawab perubahan sosial.
“Jangan sampai kemajuan membuat kita kehilangan sanad, kehilangan adab dan kehilangan orientasi pengabdian. Justru semakin besar NU, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan kemaslahatan,” katanya.
Ia berharap doa-doa yang dipanjatkan para masyayikh dan ribuan jamaah menjadi wasilah agar Muktamar ke-35 NU berjalan aman, lancar, sejuk dan menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan organisasi.
Puncak kegiatan diisi Mauidzah Hasanah oleh Rais ‘Ali Idaroh Aliyah JATMAN KH. Achmad Chalwani Nawawi. Dalam tausiyahnya, Kiai Chalwani menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui zikir, ibadah dan penyucian hati, seraya tetap menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.
Menurutnya, jalan tasawuf sejatinya mendidik manusia agar memiliki hati yang bersih, akhlak yang baik, rendah hati serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Kedalaman spiritual, menurutnya, tidak boleh menjadikan seseorang menjauh dari persoalan masyarakat. Sebaliknya, semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semestinya semakin kuat pula tanggung jawabnya untuk menjaga kedamaian, persaudaraan dan kemaslahatan.
Ia juga mengingatkan bahwa para ulama dan masyayikh terdahulu telah memberikan teladan bagaimana spiritualitas berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap tanah air.
Karena itu, jamaah thariqah memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan, merawat ukhuwah dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
“Mari kita doakan Muktamar NU ini berjalan dengan aman, damai dan penuh keberkahan. Semoga para kiai dan seluruh peserta Muktamar diberikan kejernihan hati dalam bermusyawarah, sehingga apa pun yang diputuskan benar-benar untuk kemaslahatan jam’iyyah, umat dan bangsa,” pesannya.
Selain memberikan Mauidzah Hasanah, pada kesempatan tersebut KH. Achmad Chalwani Nawawi juga memberikan ijazah Hizb Bukhari kepada jamaah yang hadir.
Ijazah tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian spiritual malam itu, sekaligus meneruskan tradisi sanad amaliah yang selama ini menjadi salah satu karakter kehidupan thariqah dan pesantren.
Para jamaah mengikuti prosesi dengan khidmat sebelum rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, keberkahan para ulama dan masyayikh, serta kelancaran seluruh rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Istighatsah dan Manaqib Kubra juga menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi JATMAN. Berdasarkan agenda yang telah disiapkan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan dan agenda organisasi yang melibatkan jajaran Idarah Aliyah, Idarah Wustha, Idarah Syu’biyyah serta para mursyid thariqah dari berbagai daerah.
Rangkaian tersebut merupakan tindak lanjut hasil Rakernas JATMAN yang diselenggarakan di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, pada Juli 2025.
Agenda konsolidasi diarahkan untuk mengevaluasi pelaksanaan keputusan Kongres ke-13 JATMAN tahun 2024 dan Rakernas I JATMAN 2025, sekaligus membahas perkembangan dan persoalan ketarekatan, ketasawufan serta dinamika kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.
Sejumlah isu strategis juga menjadi perhatian, antara lain Mubahatsah Masail Ash-Shufiyah, penyusunan pedoman pengkajian dan penelitian turats tasawuf serta sanad thariqah, hingga konsolidasi nasional GEMMATAN (Generasi Muda dan Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah).
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa JATMAN tidak hanya menempatkan tasawuf dan thariqah sebagai jalan pembinaan spiritual personal, tetapi juga sebagai sumber nilai dalam merespons persoalan sosial dan kebangsaan.
Istighatsah dan Manaqib Kubra di Tambakberas pada akhirnya menghadirkan pesan kuat menjelang Muktamar ke-35 NU: bahwa sebuah ikhtiar besar membutuhkan keseimbangan antara kerja lahir dan batin.
Di tengah kesibukan mempersiapkan arena, akomodasi, transportasi, listrik, jaringan komunikasi dan berbagai kebutuhan ribuan peserta Muktamar, ribuan jamaah JATMAN memilih berkumpul dalam zikir dan doa.
Dari lingkungan pesantren di Tambakberas, doa-doa itu dipanjatkan untuk satu harapan bersama: Muktamar ke-35 NU berlangsung aman, damai, lancar dan penuh keberkahan serta mampu meneguhkan kembali khidmah Nahdlatul Ulama bagi agama, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan.
Sebab bagi warga thariqah, ikhtiar terbaik tidak hanya dilakukan dengan mempersiapkan apa yang tampak di bumi, tetapi juga dengan mengetuk pintu langit.

