Gubernur Khofifah Dorong Pengelolaan Air Berkelanjutan dan Inklusif di Hari Air Sedunia

#image_title

SURABAYA, 23 MARET 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. Hal itu ia sampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia (_World Water Day_) yang diperingati  setiap tanggal 22 Maret. 

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa akses terhadap air bersih tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya mewujudkan kesetaraan gender. Dalam banyak kondisi, perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak ketika akses air terbatas.

“Hari Air Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran bahwa air bersih adalah hak asasi manusia. Ketika akses air tersedia secara adil, maka kesempatan untuk hidup sehat, produktif, dan setara juga akan semakin terbuka, khususnya bagi perempuan,” ujar Khofifah.

Apa yang disampaikan Gubernur Khofifah tersebut sejalan dengan tema global tahun ini “Water and Gender – Where Water Flows, Equality Grows”. 

Lebih lanjut Gubernur Khofifah menegaskan secara global tantangan krisis air masih sangat besar. Saat ini sekitar Rp 2,2 miliar penduduk dunia hidup di wilayah yang mengalami kekurangan air, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 3,6 miliar pada tahun 2025.

“Krisis air tidak hanya berdampak pada ketersediaan air minum, tetapi juga berpengaruh terhadap sektor pangan. Produksi pangan dapat menurun, harga pangan meningkat, hingga memicu kerawanan pangan dan kemiskinan, terutama bagi masyarakat rentan,” tegasnya.

Mengacu pada tema yang diangkat oleh Unesco tahun ini, Khofifah menekankan bahwa isu air dan gender merupakan isu global yang saling berkaitan. Air bersih, sanitasi dan Higiene (WASH) merupakan fondasi penting dalam mendorong kesetaraan, karena dampak krisis air tidak dirasakan secara merata oleh semua kelompok.

Baca juga :  Hadiri Sertijab Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo, Gubernur Khofifah Pesankan Keberseiringan Program SAE dengan Nawa Bhakti Satya dan Asta Cita 

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO terus mendorong upaya global dalam pengelolaan air secara berkelanjutan. 

Melalui program seperti Intergovernmental Hydrological Programme (IHP) dan World Water Assessment Programme (WWAP), berbagai negara didorong untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air berbasis sains dan solusi praktis.

“Upaya ini penting untuk memastikan keberlanjutan sumber daya air, termasuk dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, pengelolaan air tanah, serta kerja sama lintas wilayah,” imbuhnya.

Pada peringatan tahun ini, Khofifah juga menekankan pentingnya menempatkan perempuan dan anak perempuan sebagai bagian dari solusi dalam pengelolaan air. Menurutnya, pendekatan berbasis hak harus mampu memperkuat peran, suara, dan kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Ketika perempuan memiliki akses dan dilibatkan secara setara, maka layanan air akan menjadi lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan. Di sinilah air menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih sehat, sejahtera, dan setara,” ungkapnya.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berkomitmen meningkatkan akses air bersih dan sanitasi layak melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konservasi sumber daya air, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Mengakhiri pernyataannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian sumber daya air sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

“Mari kita jaga air sebagai sumber kehidupan. Dengan pengelolaan yang bijak dan berkeadilan, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan masa depan yang lebih setara bagi generasi mendatang,” pungkasnya.